hiburan

Cara KB Alami Ini Masih Banyak Dilakukan, Hasilnya Tetap Berisiko Kehamilan

Selasa, 14 April 2026 | 17:45 WIB
WHO juga mengakui metode senggama terputus atau _coitus interruptus_ sebagai salah satu bentuk kontrasepsi alami. (www.lihstjambi.com)

 

BANDUNG – Program Keluarga Berencana identik dengan upaya mengatur jarak dan jumlah kelahiran. Bagi pasangan suami istri dengan istri berisiko tinggi, pilihan kontrasepsi jadi terbatas.

Pada kasus hipertensi, kontrasepsi hormonal seperti pil atau suntik KB seringkali tidak disarankan karena estrogen dapat meningkatkan tekanan darah dan risiko komplikasi kardiovaskular.

Lantas apa opsi yang tersisa? Selain IUD tembaga dan kondom, WHO juga mengakui metode senggama terputus atau _coitus interruptus_ sebagai salah satu bentuk kontrasepsi alami.

Mekanisme dan Syarat Utama

Prinsip _coitus interruptus_ sederhana: penis ditarik keluar dari vagina sebelum ejakulasi terjadi, sehingga sperma tidak masuk ke saluran reproduksi wanita. Syarat mutlaknya adalah kontrol diri suami. Beberapa detik sebelum klimaks, alat kelamin harus segera dicabut dan ejakulasi dilakukan di luar.

“Mulanya agak-agak susah. Tapi, lama-lama ada kerjasama dengan pihak istri,” demikian pengalaman yang banyak dilaporkan pengguna metode ini. Pemanasan dan komunikasi menjadi kunci agar kepuasan seksual tetap terjaga meski klimaks tidak terjadi di dalam.

Efektivitas metode ini sangat bergantung pada penggunaan yang benar dan konsisten. Data dari berbagai studi menunjukkan angka kegagalan yang bervariasi:
Angka kegagalan 15–28% per tahun di Amerika Serikat. Analisis di 43 negara berkembang menemukan median kegagalan 13,4% dalam 12 bulan.

Baca Juga: G- Spot Misteri Kewanitaan, Konon Kunci Keharmonisan Pasangan Suami Istri ?

Jika dilakukan dengan benar setiap kali berhubungan, angka kegagalan turun jadi 4% per tahun. Sebagai perbandingan, pil KB punya angka kegagalan 2–8% pada penggunaan tipikal dan 0,3% pada penggunaan sempurna. IUD 0,1–0,8%, sedangkan kondom 10–18%. 

Penyebab utama kegagalan _coitus interruptus_ adalah kurangnya kontrol diri sehingga ejakulasi terjadi terlambat, atau adanya sperma pada cairan pra-ejakulasi. Risiko kehamilan tetap ada bila cairan semen mengenai vulva.

WHO menerbitkan _Medical Eligibility Criteria for Contraceptive Use_ sebagai panduan keamanan kontrasepsi pada kondisi medis tertentu. Untuk hipertensi, metode non-hormonal lebih dipilih. Pilihan yang umumnya aman.

Studi di Turki tahun 2021 mencatat 42,8% dari 1000 wanita masih menggunakan senggama terputus. Setelah konseling KB yang efektif, 73,8% beralih ke metode modern. Artinya, metode ini masih banyak dipakai, namun edukasi bisa meningkatkan penggunaan kontrasepsi dengan efektivitas lebih tinggi.

Bagi istri dengan hipertensi yang tidak bisa menggunakan kontrasepsi hormonal, senggama terputus adalah opsi yang secara medis diakui dan tidak memengaruhi tekanan darah. Namun, efektivitasnya di bawah IUD dan sterilisasi.

Halaman:

Tags

Terkini