Mimpi sering menjadi kompas bagi anak muda dari pelosok untuk menaklukkan riuhnya kota besar. Namun bagi S, nama samaran, kompas itu justru menuntunnya ke jurang kenistaan.
Niat tulus menjadi buruh pabrik berubah menjadi jeratan yang merampas martabat dan kebebasannya, ironisnya semua itu digerakkan oleh tangan orang yang paling ia percaya, kekasihnya.
S menuturkan kepada penulis warkat ini, bagaimana perantauannya hingga menjelma neraka yang sunyi. Awalnya ia hanya ingin berdiri di balik mesin pabrik, mengumpulkan upah untuk dikirim ke kampung.
Tetapi realitanya memaksa lain, ia malah disinggahkan pada gemerlap lampu karaoke sebagai pemandu lagu, dan lingkaran baru perlahan menyeretnya ke bibir prostitusi online.
Nama aslinya dikubur hidup-hidup. Sebagai ganti, sederet nama samaran dan foto-foto dirinya yang seksi dan menggoda dipajang di etalase digital MiChat.
Di sana, S bukan lagi manusia, melainkan komoditas dalam praktik Open BO. Harga dirinya ditakar lewat notifikasi, tawar-menawar, dan janji temu yang tak pernah ia pilih sendiri.
Fakta paling menyesakkan dadanya, dalang semua itu adalah kekasihnya yang ia cintai. Lelaki yang seharusnya menjadi sandaran hidupnya, justru bertindak sebagai mucikari.
“Akun MiChat saya dipegang penuh olehnya. Dia yang membalas pesan, menawar harga, dan menentukan di mana saya harus bertemu pria hidung belang,” ucap S, suaranya bergetar dan mata cantiknya sembab oleh air mata yang hampir tumpah.
Cinta yang semestinya melindungi berubah menjadi rantai perbudakan modern. S tidak hanya dikuras secara finansial, tapi juga dilucuti secara mental.
Usai “bekerja”, bukan pelukan yang menanti, melainkan interogasi kasar. Detail aktivitas seksual dicecar, sekadar untuk memastikan pundi-pundi keuntungan dan kepatuhan.
Sekali melawan dibalas dengan tampar tamparan. Jika hasil tak sesuai, lebam menjadi bahasa hukuman. Agar S tak berani pergi, sang kekasih menggenggam senjata pamungkas: ancaman menyebar video intim.
Dengan ponsel yang diawasi dan langkah yang dipantau, S hidup dalam penjara tak kasat mata, dan satu-satunya sipir adalah lelaki yang ia sebut cinta.
Di ujung kisahnya, S tak lagi bicara soal uang atau gemerlap kota. Air matanya jatuh ketika membisikkan kerinduan yang sederhana.