• Sabtu, 18 April 2026

Ketika Rasa Tak Lagi Menyapa: Menu MBG Semakin Ditinggalkan Lidah Anak-anak

Photo Author
Tatang Tarmedi, Sumedang 24 Jam
- Rabu, 15 April 2026 | 05:27 WIB
Di banyak sekolah, menu MBG tak lagi disambut antusias, melainkan disisakan, ditukar, atau bahkan berakhir di tempat sampah. Sehingga tak aneh bila di satu sekolah di Jatinunggal Sumedang kucing-kucing berkeliaran dan tumbuh gemuk.
Di banyak sekolah, menu MBG tak lagi disambut antusias, melainkan disisakan, ditukar, atau bahkan berakhir di tempat sampah. Sehingga tak aneh bila di satu sekolah di Jatinunggal Sumedang kucing-kucing berkeliaran dan tumbuh gemuk.

 

NASIONAL – Program Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas sebagai ikhtiar negara merawat generasi kini menghadapi dilema sunyi: dari hari ke hari, piring-piring yang disajikan justru kian jarang kembali dalam keadaan kosong.

Di banyak sekolah, menu MBG tak lagi disambut antusias, melainkan disisakan, ditukar, atau bahkan berakhir di tempat sampah. Sehingga tak aneh bila di satu sekolah di Jatinunggal Sumedang kucing-kucing berkeliaran dan tumbuh gemuk.

Para guru menjadi saksi pertama dari perubahan itu. “Awalnya anak-anak senang, tapi lama-lama mereka bilang bosan, rasanya hambar, atau sayurnya terlalu banyak,” ujar seorang guru.

Menu yang berulang, tekstur yang kurang ramah di lidah anak, serta tampilan yang monoton perlahan mengikis rasa penasaran. Bagi anak, makanan bukan sekadar angka gizi di atas kertas, melainkan pengalaman inderawi yang meminta untuk dipahami.

Baca Juga: Siswa SMP Bandung Keluhkan MBG Bau Ketiak, Diduga Kembalikan Ompreng Ramai-ramai ke SPPG

Di balik dapur penyedia, persoalan pun tak kalah pelik. Standar gizi yang ketat dan anggaran yang terbatas membuat ruang kreasi menyempit. Koki lapangan mengaku harus memutar otak agar protein, karbohidrat, dan serat tercukupi tanpa melampaui pagu.

Akibatnya, inovasi rasa sering kali dikorbankan. “Kami ingin anak suka, tapi kami juga terikat komposisi dan harga bahan yang naik-turun,” tutur salah satu penanggung jawab katering MBG di Sumedang.

Dan memang, ada jurang yang belum terjembatani antara laboratorium nutrisi dan psikologi makan anak. Anak bukan orang dewasa bertubuh kecil. Mereka punya fase neofobia, sensitivitas terhadap pahit, dan preferensi tekstur.

Kalau pendekatan MBG hanya menakar zat, tanpa merayu lidah, maka makanan sehat akan tetap terasa seperti obat. Sangat perlu uji rasa berkala yang melibatkan anak sebagai subjek, bukan objek. Dampaknya mulai terasa bukan hanya pada tumpukan sisa makanan, tetapi juga pada tujuan besar program.

Baca Juga: Wali Murid SD Ungkap Banyak Makanan MBG Tak Diambil karena SPPG Telat Pengantaran

Ketika makanan tak disantap, asupan gizi tak masuk ke tubuh. Ketika tubuh tak mendapat asupan, maka intervensi stunting dan peningkatan konsentrasi belajar terancam menjadi jargon. Beberapa sekolah bahkan melaporkan anak membawa bekal sendiri atau jajan di luar, justru mengembalikan pola konsumsi yang ingin diubah MBG sejak awal.

Suara orang tua pun terbelah. Sebagian bersyukur beban uang jajan berkurang, namun tak sedikit yang resah melihat anaknya pulang dengan perut setengah kosong. “Gratis itu bagus, tapi kalau anak tidak makan, apa gunanya? Lebih baik porsinya sedikit tapi habis, daripada banyak tapi mubazir,” kata Ibu Sari, ibu dari siswa kelas 6 SDN Citali Sumedang. Di sinilah MBG ditantang untuk tidak hanya hadir, tetapi juga diterima.

Drs. Hadie Guna, MM, MBA mantan Direktur Lembaga Pendidikan menyarankan jalan keluarnya barangkali terletak pada keberanian mendengar. Rotasi menu berbasis kearifan lokal, pelibatan juru masak rumahan, hingga edukasi rasa sejak dini bisa menjadi jembatan.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Tatang Tarmedi

Tags

Terkini

X