BOGOR - Selama bulan Ramadan, minuman manis kerap menjadi pilihan utama saat berbuka puasa karena dianggap mampu memulihkan energi dengan cepat.
Namun, konsumsi gula yang berlebihan tanpa pengendalian justru berpotensi menimbulkan berbagai masalah kesehatan
Profesor Ilmu Gizi Pangan IPB Prof Budi Setiawan, mengungkapkan pada momen berbuka puasa kecenderungan masyarakat memilih makanan dan minuman manis.
“Kecenderungan mengonsumsi makanan atau minuman manis saat berbuka bertujuan mengembalikan kadar gula darah yang menurun selama berpuasa,” ungkapnya.
Ia menambahkan, asupan makanan dan minuman manis juga dapat menimbulkan rasa puas dan bahagia. Hal tersebut dipicu oleh peningkatan produksi hormon serotonin.
Baca Juga: Kue Nastar Khas Indramayu Sabet Juara Nasional Bogasari Young Flour Food Preneur
Prof Budi menjelaskan bahwa gula termasuk komponen pangan yang perlu dibatasi karena berada di puncak piramida gizi seimbang.
Berdasarkan ketentuan konsumsi gula, garam, dan lemak (GGL), batas konsumsi gula harian adalah 50 gram atau setara dengan empat sendok makan.
“Konsumsi apa pun kalau berlebihan tentu saja tidak baik, makanya pedomannya adalah gizi seimbang,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menilai konsumsi minuman manis secara berlebihan saat berbuka maupun sahur tidak mendukung pemenuhan gizi seimbang.
Baca Juga: Junaedhi Mulyono, Kades Ponggok, Klaten, Jawa Tengah Menjadi Ketua Umum DPP APDESI periode 2026–2030
Perut yang cepat terasa penuh akibat minuman manis juga dapat mengurangi porsi makanan bergizi lain, seperti sayur, buah, dan sumber protein.
Menurut Prof Budi, asupan gula yang berlebih berisiko meningkatkan karies atau kerusakan gigi. Selain itu, kelebihan energi dari gula dapat memicu kenaikan berat badan.